CerpenUncategorized

Banin kepada Banat (Santri vs Santriwati)

           Ada sebuah pandangan, ada sebuah rasa, ada ikatan,ada kasih sayang, kemudian saling pengertian. Dalam keharmonisan pasangan harus melalui hal tersebut untuk mendapatkan apa yang namanya cinta abadi. Oleh sebab itu lelaki/suami harus jeli mengambil hati wanita/istri. Karna, peran utama dalam rumah tangga adalah lelaki yang tangguh, humoris, wibawa, dan tegas dalam segala urusan. Dan orang yang paling tepat untuk hal ini adalah suami/lelaki sejati.

          Rosulullah pernah memenuhi keinginan istri-istrinya, yang ingin di beri perilaku lebih.seperti yang di ceritan oleh syaidah Aisyah,saat rosulullah mengajaknya untuk melihat pertunjukan keterampilan memainkan pedang dan menari para sahabatnya setelah sholat idul fitri, rosul memanggil syaidah Aisyah dengan sebutan kesayangan, yaitu Humaira. Sebutan kemesraan rosul pada Aisyah yang berarti pipi yang kemerah-merahan. Lalu Aisyah memenuhi panggilan rosulullah dan menghampirinya di depan pindu. Aisyah meletakkan dagunya di atas pundak rosululllah, dan menyandarkan pipinyake wajah beliau.sambil melihat keterampilan para sahabat, Aisya enggan melepaskannya dari wajah rosulullah. Sampai rosul mengulangi perkataannya tiga kali, baru Aisyah menuruti rosulullah. ‘’sudah cukupkah engkau melihat mereka bermain wahai Humaira’’ dan jawaban manja Aisyah ketika itu adalah ‘’diamlah rosulullah.’’ Ketika di tanya prihal kelakuan manjanya tersebut Aisyah menjawab: ‘’ sebenarnya tujuan utamaku bukanlah bukanlah ingin melihat permainan mereka, akan tetapi aku ingin semua wanita tahu bangaimana kedudukan rosulullah SAW di sisisku, dan kedudukanku di sisinya’’

        Lihatlah! Betapa perhatiannya rosulullah pada istrinya, suatu yang mungkin remeh bagi suami untuk di kerjakan, apalagi bagi pasangan sudah lama menikahnya, untuk bermesraan di tempat umum. Namun bagi rosulullah memahagiakan sang istri adalah suatu yang amat penting untuk di penuhi. Sekali lagi walau itu remah bagi kebanyakan suami.

        Aisyah bercerita. Aku pernah pergi bersama rosulullah dalam sebuah perjalanan. Ketika itu umurku masih muda dan tubuhku masih kurus. Rosulullah berkata pada orang-orang di sekitarnya ‘’berkumpulah kalian di sini!’’. Setelah semua orang berkumpul,rosulullah mengajakku untuk lomba lari. Akupun memenuhinya. Dan ternyata pada perlombaan itu aku yang menang. Saat aku mulai ngemuk dan usiaku mulai menua, rosulullah mengajakku lomba lari lagi. Setelah rosulullah memanggil orang-orang untuk berkumpul. Aku dan rosul berlari, kali ini rosulullah yang memenangkan lomba tersebut. Beliau lalu tersenyum dan berkata: ‘’kemenangan ini adalah balasan kekalahan yang dulu’’.

          Kadang sebagai suami terlalu sibuk untuk memberi waktu kepada istri dan anaknya. Bercengkrama, memberi waktu untuk istri dan anak di sela kesibukannya di luar. Baik sebagai pedangan, petani, relawan, penjabat, mubaligh, dan kiyai. Suami pun enggan untuk sekedar bergurau dengan istrinya. Kalau kita tilik rosulullah, beliau adalah nabi, imam, panutan umat, tapi masya Allah, beliau masih sudi untuk memberi suatau senyuman di pipi istrinya, yang akan di kenang oleh istri-istri beliau.

        Betapa bahagianya wanita mendapat lelaki yang bisa membuat dirinya tersenyum ketika melihatnya, mematuhi dan selalu di ingat perkataannya, merindukannya di saat sendirian, dan kehilangan saat tiada. Begitupun laki-laki yang mempunyai istri yang selalu membuatnya tersenyum saat pulang ke rumah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button