Artikel

Santri Dakwah Pakai Sosmed

Banyak orang yang mengenal dan memilikinya,s eperti  facebook, bbm, wa, Line, Twiter, dan masih banyak lainnya. Setiap hari menyisihkan waktu untuk mencengkrama di dunia sosmed, satu jam, dua jam, tiga jam, wahalumma jaro. Banyak kegiatan lain yang tertata rapi terlalaikan. Begitulah kalau sudah terkena penyakit demen, jika sudah bersama dengan sesuatu yang di senangi satu hari rasanya seperti satu jam, rasa lapar seakan hilang dengan sendirinya, toh seandainya rasa demen bin kesemsem di arahkan pada seluruh mata pelajaran, mungkin akan menjadi orang  nomer  wahid di suatu lembanga atau pesantren.

Bagi kalian yang sudah bergaul dengan sosial media atau lebih mashurnya sosmed, pasti sering menemukan sahabat lama yang terpisah beberapa tahun lamanya. Sejak kalian keluar dari sekolah bangku dasar,meneruskan kejenjang sekolah yang lebih tinggi, tergantung dengan keinginan dan bidangnya masing-masing. Ada yang meneruskan kepesantren, menjadi penerus tongkat estafet perjuangan Nabi dan Sahabat. Sebagian ke SMP diteruskan deng perguruan tingginya. Sebagian lagi melanjutkna ke KUA , kalau yang terakhir ini paling banya dari sahabat wanita,entah kerena tabarukan kepada sayyidah aisyah (wanita  yang di kawin nabi pada usia tujuh tahun),paksaan orang tua, atau karena hamil diruar nikah. Nauzubillah.

Temen sosmed itu banyak ragamnya, tidak bisa menilah dari satu status di dingding facebook. Ngabdet status yang sangat memukau pembaca,menampilkna kedermawanannya pada orang banyak, seaka akan kalian iri dengannya. Kalau kita mau berfkir lebih jau lagi,apakah kebiasaannya dia senang bersedaqoh atau hanya sebuah pencitraan saja. saya jadi teringat dengan temen pondok di bondowoso ,dia terlalu terpukai dengan status perempuan yang aktif dalam dunia sosmed, pada akhirnya berkesimpulan cocok untuk menjadi pedamping hidupnya. So…sosmed itu bukan dunia nyata.

Sekarang ini banyak orng yang warsir, foto-foto selvi di unggah ke sosmed, bukan Cuma terjadi ditempat wisata terkenal, ti tempat meja makanpun juga di unggah. Ini pekerjaan siapa? Cuma antumlah yan tau .!  sukur-sukur gag selvi di kamar mandi kemudian juga di unggah. Wah….bisa jadi gawat urusahnya!!

So. Jangan bangga bisa pamer apa yang kalian punya. Mengunggah pekerjaan baik kalian yang munkin jarang dikerjakan orang lain, atau memamerkan barang kepunyaan yang mahal dan langka. Akan tetapi siapa yang menjami kalian ihklas karena Allah. Coba kita buka lagi kita Ihya’ ulumuddin,kitab fenomenal karangan Imam Al-Ghazali. Beliau membagi riyak manjadi lima bagian. Diantaranya beliau memasukkan riyak dalam hal perbuatan,misalnya sengaja memperbanyak sholat sunnah di hadapat orng lain,supaya dikatakan soleh. Atau kalu di sosmed, agar dikenal karena banyak memberi manfaat. Saya kira kalia telah tau semua , utamanya kawan santri yang duduk di bangku tsyanawiyah ke atas. Karena bab riyak telah di jelaskan secara detail oleh murobbi ruhina KH.Ahmad Nawawi bin abd. Djalil, di pondok tercinta ini. Entah jika termakan mimpi semu dalam mimpi kalian ketika dalam keadaan ngaji ke beliau.

Lepas dari pembahasan ini, ternyata bukan Cuma narkoba yang bikin kacanduan, dunia sosmed  lebih berpengaruh pada banyak orang terutama para pemuada pemudi  Indonesia. Mengapa tidak?  Tercatat penduduk Indonesia masuk kategori terbanyak dalam menggunakan facebook. Lebih memperhatika lagi ibu-ibu juga ikut kecanduan,sehingga lupa akan kewajiban sebagai ibu rumah tangga.ibu adalah peran terpenting dalam kehidupan para generasi bangsa, jika ibu sudah tidak memperhatikan  pada anak-anaknya. Hanya memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, sedangkan kebutuhan rohaninya tidak sama sekali. Terus bagai mana keadaan negara periwi kedepan.?

Sudah saatnya kita (para tentara allah) menyihir para pecinta facebook, memberi ekspresi, mewarnai dengan hal-hal kebagusan. Di facebook kita bisa berintreraksi, komunikasi, transaksi bisnis kesempatan besar ketika pulang kerumah masing masing oleh pondok untuk mengamalkan ilmu yang kita pelajari, walua hanya dalam jangka sebentar  yang akan hilang diterpa angin kerinduan bersama keluarga,yaitu hari libur santri, momen yang selalau di harapkan kedatanganya. Sampaikanlah pesan-pesan mutiara para ulama’ terhadulu, dengan menggunakan bahasa modern dan mudah di faham oleh banyal orang. Banyaklah membaca dan sampaikan dengn bahasa kita (jurnalis santri) wassalam..

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button