CerpenUncategorized

Santri Keturunan Kucing

“Gus ,janganlah dikau berperawakansebagaimana abah!!!,yang tidak mahir dalam berpidato”tukas pak torijo yang mulai membuatku heran “kiai macam apa abah itu?”,lanjut pak torijo,salah satu staf pengajar dari yayasan darulayyam.ucapannya begitu terngiang ngiang berpantulan dalam gendang telingaku.  

                Bermukimku di pesantren memang telah membawa ragaku pergi melang lang buana,namun pikiranku masihlah berada di halaman sekolah,tepat sebelah rumah.”kucing ,pasti akan melahirkan kucing,tak kan bisa mengaung bak aungan singa”,suara itu masih menggema,terasa dekat nan lekat,berjelaga memenuhi otakku.

                                                                                                ***

             Di pesantren,tepatnya di jawa timur,diriku telah menapaki jenjang tsanawiyyah.berstatus santripun telah genap 4 tahun.di pesantren ini,ku mulai mengikuti pelatihan tuk jadi da’I provisional,bakat dalam diri masihlah remang,yang tak memiliki bekal tuk mengikutinya,begitu terasa menenggelamkanku pada genangan takdir yang kelabu.

                Diri ini masihlah hanyut terbawa arus kritikan pak torijo.”aku pasti bisa menjadi singa yang dapat mengaung,toh memang abah bagaikan kucing yang mengeong”hatiku membatin.tak ku sadari,diriku yang berada dalam ruang pelatihan,sekonyong konyong santri sebelahku menjawil lenganku kemudian berucap,”heii,kau di suruh maju sedari tadi oleh pembina”,sontak diriku kaget,tak habis pikir.yang dari tadi telah di tunjuk oleh Pembina,guna tampil di depan kawan kawan santri.kaki ini bagaikan berpijak di atas bumi yang bergoncang dahsyat,lututku gemetar,maju tertatih tatih dengan keterpaksaan,”coba,kamu sampaikan salam saja dulu,tanpa muqoddimah yang disusul isi nantinya!!”pinta  Pembina sembari mempersilah kanku berada di depan kawan kawan.”bismillahirrohmaanirrohiim”,sebut hatiku.kuawali bernafas dengan jantung yang tak teratur dan”assa….assaa..assala…”ah”,batinku jengkel,gelagapan mengucapkan salam,tubuh semakin bergetar,merinding,panas dingin yang kurasa,terpaku kaki ni ke bumi,tak dapat ku lanjutkan hingga tuntas kalimat salam di depan kawan kawan serta Pembina,” aduh paak, sssaya ggak bbisa,saya malu pada kawan kawan”,ujarku padanya sembari menutup wajah dari kenyataan yang telah ada.”nak,”sahut Pembina,yang mulai dapat mendongahkan wajahku tuk memandanginya,dan dapat memperhatikannya,”kau jangan menyerah di awal!!!,kau haruslah berusaha lagi dan lagi,karna tak mungkin,tiada hasil dari pada usaha yang bersungguh sungguh”,lanjut pak Pembina mencoba memberi support padaku,sembari mengelus lengan punggung kiriku”,kau ini punya bakat,kau memiliki singa yang belumlah bangun,tentunya,dengan berusaha,terus berlatih,nantinya kau akan segera membangunkan singa yang masih tidur dalam jati dirimu,”tegas Pembina yang dapat melunturkan keputus asaanku,”ingatlah nak,apa kata pepatah??,MAN JADDA WAJADA,dan ini merupakan suatu kepastian bagi mereka yang benar benar hendak bersungguh sungguh dalam usahanya”,tukas Pembina mengakhiri pembicaraan.

Kesedihan  dalam diamku,dapat terhapus sedikt demi sedikit,sebab siraman semangat Pembina.gundah gulana dalam hati ini,dapat terpentalkan oleh kobaran semangat jiwa muda.”ku pasti dapat mengaung bagaikan aungan singa”,tekadku yang telah bulat,mengadakan perjanjian dalam diri,bahwa kelak,diri ini,anak si kucing katanya,pasti akan menjadi singa podium,tak kalahnya ir.soekarno,dengan ketegasan dalam berpidato,juga habib rizieq syihab,terkenal dalam keras dan lugasnya berpidato, juga keseriusan perawakannya.disemua itu diriku pun menyadari akan sangat perlu adanya usaha,dengan usaha sistematis yang mapan dan sempurna.

                                                                                                ***

                Setelah ku dapati kegiatan pagi di asrama telah usai,ku mulai bersiap siap untuk segera terjun menyapa buliran buliran air sejuk nan segar,tuk membasahi tubuhku ini,sebelumnya,terdapat waktu renggang di sela dan himpitan masa, dimana diriku menunggu giliran kamar mandi,kugapai alat pembersih gigi (sikat gigi),kuangkatnya berpapasan dengan mulut.dimulainya nada semu tinggi,akupun berucap”assalaamualaikum warahmatullahi wabarokaaatuh”.sontak,suaraku telah membuat para santri yang sedang menanti giliran,keheranan,pusing bukan kepalang.sebagian mengercitkan dahinya,dan juga ada senyum yang terbit dari mulut mereka,”ah, entahlah”,tak ku hiraukan expresi raut wajah mereka,berhadapan dengan mimik wajah yang serute dengan intonasi nada hati.mungkin dengan cara seperti ini yang dapat menjadi alasan klise,antara mendapati mental sekuat baja dan terbiasa tampil dengan aksi nyata.

                Kerap sekali terjumpai,perlombaan setelah usainya ujian semester”mungkin,aku pasti bisa menang tuk jadi yang terbaik”,ujarku pada diri ini,dengan rasa yakin yang amat kuat,tuk dapat menjalaninya.detik demi detik menjadi menit,menitpun pupus berpindah pada jam,dan jam telah berevolusi sebagai hari.tak selang beberapa hari kemudian,tibalah di malam perlombaan calon da’I kondang         ,dengan berpenampilan busana,di lengkapi jubbah,taklah lepas dari imamah,bak raja arab dengan para pengikut menyertaiku.anak demi anak,peserta disusul peserta,telah kerap kusadari,”nomor urut 12,segera maju ke depan pentas”suara dari pembawa acara telah menyebut nomor yang bergantungan antik di dada kiriku.

                Seusai ku maju guna mempertunjukkan hasil usahaku barusan,ku merasa begitu bahagia,karna kudapati raut wajah para juri yang mengiyakanku sebagai juaranya.putaran arah jarum jam telah mengarah tepat jam 09:45.menatap keseriusan juri dalam menentukan juarawan membuat perasaanku kerap layu menimang kenyataan hidup,yang memang telah menjadi hak prerogratif tuhan semesta alam.”yaa,baiklah saudara yang di rahmati allah,tak perlu menunggu lama lagi,langsung saja,saya akan menyebutkan juaranya”suara yang semakin membuatku gelana gelana miris mendengarnya.”juara pertama ,jatuh pada……iimmrooon,asal lumajang,dimohon maju ke pentas penghormatan.”aah bukan aku!”batinku mulai jengkel.”hanya satu harapan lagi,tersisa juarawan kedua”ujarku penuh pasrah pada maha kuasa,seusai juarawan ketiga telah diraih oleh  kholel.”juarawan kedua, jatuh pada saudara yang bernama…… ghuufrooon asal bumi santri,siitubondo,dimohon menaiki pentas kehormatan.”beemm…”bongkahan permata firdaus menghantam hati kecilku,tak dapat ku pungkiri,kebahagiaan yang telah datang pada hidupku,aku pun maju,serasa tak menyentuh tanah kaki ini.sejak itulah akupu dijuluki sebagai SINGA PODIUM,akhirnya ku dapat mengaung jua,terima kasih tuhan,terima kasih juga ku haturkan pada orang yang tlah mengkritikku,pak torijo.”itulah aku,kudapat mengaung laksana aungan singa dari keturunan kucing”batinku.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button