Cerpen

Saya Santri, Saya Lurus

Ia memiliki hidung yang mancung ke-arab-araban. Berbadan tegap. Di tambah lagi, ia termasuk orang yang cerdas dan memiliki IQ di atas rata-rata. Wataknya yang tegas menambah haibah pada dirinya. Setiap ia keluar rumah, tidak sedikit orang yng melihatnya dengan rasa takjub.

          Sejak naik kelas 1 SMA, dia sudah menargetkan diri agar bisa masuk ke kampus favorit yang berbasis tinggi. Berbekal akal yang cerdas, ia tidak pernah absen juara setiap semesternya. Lebih-lebih dia lahir dari keturunan orang elit. hari-harinya selalu dihiasi dengan gemerlap harta.

          “Zaid!” Panggil Ibunya. “Iya Bu.” Jawab Zaid. “Ayo makan nak.” Ajak Ibunya. Zaid pun bergegas menuju ruang makan yang bersandingan dengan kolam renang keluarganya, persis di barat perpustakan pribadinya yang berisi buku-buku koleksinya sejak kecil hingga saat ini.

          “Zaid!” Seru Ibunya. “Ibu ingin engkau mondok di Pesantren. Besok, Ayah dan Ibu akan mengantarkanmu ke Pesantrren Sidogiri.” Lanjut Ibunya. Alis Zaid yang semula lurus menjadi melengkung layaknya ombak. Wajahnya memerah layaknya merah cabai, menandakan ketidak setujuannya yang sangat besar.

          “Gertak.” Zaid menggertak meja makan yang terbuat dari kayu itu dengan keras. Suasana mendadak hening bagaikan heningnya pemakaman di malam hari. 2 burung walet yang tadinya bercanda dan bercengkrama menjadi ikut kaget, saking kerasnya gertakan.

           Tanpa ada jawaban darinya, Zaid bergegas keluar menuju garasinya. Ia memakai sepeda Ninja yang ia dapat dari ayahnya ketika hari ulang  tahun sebulan yang lalu. Hadiah dari orang tua kepada anak sulung satu-satunya. Gas ditancap. Dengan kecepatan 90 ia melaju. Tak ia hiraukan sorakan masyarakat ataupun kejaran polisi ketika ia melanggar rambu lalu lintas. Zaid malah menambah kecepatan untuk lari dari kejaran polisi. Yang ada di benaknya ketika itu hanyalah, bagaimana cara lulus dari pencarian polisi.

          Tidak disangka-sangka, ia menabrak pohon beringin yang dikenal angker oleh warga setempat. Hampir saja kepalanya tertindas oleh truk bermuatan 5 ton. Pohon tersebut memang sudah banyak memakan korban. Baik karena tabrakan atau mati seketika ketika menyandar pada pohon tersebut. Sehingga masyarakat berhati-hati ketika  lewat di depannya.

          Darah segar lagi deras mengalir di sekujur tubuhnya. Wajahnya yang tampan menjadi rusak karena tabrakan yang keras. Tak lama, polisi yang semula memang mengejarnya, langsung meringkus dan membawa Zaid ke rumah sakit terdekat. Darah yag berada di TKP, sekejap dihampiri oleh lalat-lalat yang kelaparan. Dengan senangnya para lalat bersyukur akan nikmat yang Tuhan berikan.

          “Ayah, betapa bodohnya orang ini, tidak mau bersyukur akan nikmat yang Allah berikan.” Kata salah satu lalat kepada ayahnya.

          “begitulah nak, banyak manusia yang senang mencicipi harta tuhannya tapi ia tidak mau bersyukur kepada sang pemberi.” Jawab sang ayah sambal menyantap darah yang mulai mengering.

***

          “Kring, kring, kring.” Bunyi telefon bermerek Aple milik Ayah Zaid. Ia pun menjawab dan mendengarkan baik-baik suara dari orang yang tak beralamat di HP-nya.

          “Halo, kami dari kepala kepolisian, apakah benar ini dengan Ayah Zaid?” Tanyanya.

          “Iya benar.” Jawab Ayah Zaid dengan penuh kecemasan yang memuncak setelah mengetahui bahwa yang menelvaon adalah pihak kepolisian.

          “Kami hanya ingin memberitahukan bahwa…”

          “Ada apa dengan anak saya Pak?” Tanya Ayah Zaid ang langsung menyambar dan memotong ucapan polisi yang belum selesai.

          “Harap yang tenang ya Pak, anak anda sekarang berada di RS. Azzahra. Ia mengalami kecelakaan karena menabrak pohon beringin.” Jawab Polisi.

          “Kami harap, anda segera ke sini secepatnya agar proses berjalan cepat.” Sambung polisi dengan tegas.

          Tanpa menunggu waktu lama, Ayah Zaid dan Ibuna berangkat menuju RS. Azahra yang lokasinya kurang lebih 3 KM dari rumahnya. Rasa hawatir, sedih, dan susah beraduk menjadi satu menyelimutu kedua pasutri tersebut. Selama perjalanan, tidak ada suara yang terdengar dari Ayah dan Ibu Zaid kecuali isak tangis yang semakin menjad-jadi. Hingga akhirnya menyurut ketika sudah sampai pada tempat tujuan.

          Waktu menunjukkan jam 11 malam, setelah setengah jam terlahap oleh waktu perjalanan. Ayah Zaid memarkirkan mobilnya di luar lokasi rumah sakit lalu bergegas menuju gerbang yang sudah tertutup. Ia memanggil satpam, tapi taka da jawaban apalagi batang hidng yang muncul ke hadapannya. Ia pun mengajak Istrinya, Ibu Zaid untuk  meloncati pagar rumah sakit. Mereka berdua meloncat walaupun akhirnya rok Ibu Zaid tersobek gara-gara pagar besi yang tersangkut pada roknya.

          Tanpa menghawatirkan hal tersebut, keduanya bergegas menuju  tempat perawatan Zaid. Sesampainya di sana, Ibu Zaid menjerit sekeras-kerasnya di sertai isak tangis ketia melihat kaki Zaid yang patah gara-gara tabrakan tersebut. para perawat sekaligus polisi yang berada di sana juga tak kuasa untuk menenangkan Ibu Zaid.

***

          Sepuluh hari sudah berlalu. Zaid sudah mulai sembuh meskipun wajahnyatak setampan semula dan harus berjalan dengan kaki pasangan. Ia menyesal dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Ia sadar akan pentingnya taat pada orang tua. Sekarang, Zaid mau untuk dimondokkan, meskipun harus mendadak untuk diantarkan ke pondok pada esok harinya. Bersambung.    

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button