Artikel

Saya Santri, Saya Zuhud

Konon, pada suatu saat ada seorang Khaddam(pelayan Kiai), berprasangka buruk mengenai sikap Kiainya yang merupakan seorang Ulama yang masyhur dan tersohor kewaliannya. Sang Kiai tersebut memang dalam hidup kesehariannya selalu serba mewah dan penuh tumpukan harta yang melimpah. Sehingga Khaddam tersebut menyangka bahwa, Sang Kiai seakan-akan cinta terhadap kesenangan dunia dan terbuai dengan tumpukan harta, yang membuat dirinya lupa kepada Sang Maha Kuasa. Hal demikian, merupakan sifat yang tak seharusnya dimiliki seorang Ulama pada umumnya. Begitulah anggapan Khaddam tersebut perihal Sang Kiai itu.

Karna Mukasyafah Sang Kiai cukup tinggi, hingga Ia tahu apa yang terbesit dalam hati Khaddamnya itu. Suatu saat, Sang Kiai mengajak Khaddamnya menghadiri suatu acara dengan mengendarai Kereta Kuda atau Delman. Ketika hendak berangkat, Sang Kiai menyodorkan sebuah gelas yang terisi air penuh kepada Khaddamnya. Lalu berpesan dengan mengatakan”Gelas yang terisi air penuh ini, kamu jaga benar-benar, jangan sampai tumpah setetes pun, hingga tiba di lokasi acara nanti”. Pesan Sang Kiai kepadanya. Dan Ia pun menyanggupi amanah itu.

Singkat cerita kala sudah tiba di acara.Terjadi sebuah peristiwa yang membuat Si Khaddam terkejut penuh keheranan. Pasalnya, air penuh yang terwadahi gelas tersebut, ternyata sudah tumpah selama dalam perjalan tanpa Ia sadari. Hal itu membuat dirinya Khawatir, sang Kiai  akan marah kepadanya. Spontanitas, Sang Kiaiberkata kepadanya, ”Seorang meskipun dalam hidupnya dipenuhi sekian banyak tumpukan harta, namun hatinya tetap wushul dan menyatu kepada Allah, Ia tetap tergolong orang-orang Zuhud (tidak suka dunia). Sang Kiai melanjutkan, Sama halnya kamu, disaat memegang sebuah gelas yang terisi air penuh, ternyata airnya tumpah tanpa kamu sadari selama diperjalanan, karna kamu tak menghiraukannya”.ujar Sang Kiai kepada Khaddamnya itu.

Dan Ia menyadari perihal semua itu, dan Ia pun meminta maaf kepada Sang Kiai. Ada salah seorang Ulama memberikan Definisi terkait orang-orang Zuhud. Bahwa az-Zahid (orang yang Zuhud), bukanlah orang yang sama sekali tak memiliki apa-apa sedikitpun dari harta benda,apalagi memiliki sekian banyak tumpukan harta yang begitu melimpah. Namun, az-Zahid ialah orang yang tidak mempunyai keterikatan yang begitu erat antara dunia dengan hatinya, apalagi sampai terbuai, hingga membuat dirinya lupa kepada Tuhannya. Oleh karenanya,seorang Ulama yang hatinya betul-betul terikat dengan Allah swt. dan dalam hatinya tak ada sesuatu pun melainkan dia, maka dunia dimatanya, seakan-akan hanyalah rimbun hijau daunan yang sebentar lagi mengering lalu jatuh entah kemana.

Dengan begitu, tolak ukur sikap kepribadian seseorang, dapat ditinjau melalui hatinya.bukan malah mengkritik dan memvonis begitu saja sikap orang lain dengan cara memandang sebelah mata. Karena kita tidak tahu apa yang ada dalam isi hati orang lain. Rasulullah saw bersabda.

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan fisik kalian,melainkan Ia melihat hati kalian”.[]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button